Ayat 92 dari surat Al-A’raf merujuk pada Syuaib, seorang nabi yang diutus oleh Allah untuk memberi pengajaran kepada kaumnya. Kafilah, sebagai tugasnya, Syuaib harus memberitahu orang-orang kaumnya, Bani Israil, untuk mengikuti hukum Allah. Namun, meskipun disadari bahwa Syuaib tahu lebih dari lainnya, orang-orang itu memilih untuk membandingkan dia dengan tuannya yang telah meninggal. Mereka berbelanja di pasar-pasar, melihat kehidupan yang berbeda, bertemu dengan orang baru, mendapatkan pengetahuan yang baru, namun kemudian mengingkari Syuaib saat dia memberi pengajaran kepada mereka.
Karena membangkang dan tidak mau mengikuti ajaran Syuaib, Allah mengirim musibah, yaitu tanah yang kering. Kehidupan yang ramai yang pernah mereka lihat dan readap menjadi hampa. Mereka mengalami bencana besar dan sudah jelas bahwa mereka rugi.
Meskipun mereka telah mengalami bencana, mereka masih mengingkari Syuaib dan tidak mau menerima pengajaran dan petunjuknya. Tidak peduli berapa lama mereka tinggal di sana, mereka tetap tidak mau mendengarkan pengajaran dari Syuaib. Akibatnya, mereka yang mengingkari Syuaib kemudian rugi.
Inilah intisari dari ayat 92 Surah Al-A’raf. Ayat ini menggambarkan efek buruk dari mendustakan nabi yang telah diutus oleh Allah. Orang-orang yang mengingkari nabi seakan-akan mereka belum pernah tinggal di sana, sehingga mereka tidak paham betapa pentingnya nasehat yang diberikan oleh Syuaib. Mereka tetap tidak mendengarkan dan akibatnya mereka mengalami bencana dan kehilangan. Oleh karena itu, orang-orang yang mendustakan nabi yang telah diutus Allah adalah mereka yang paling merugi.