Pemikiran di hati manusia tentang Tuhan secara umum adalah bahwa Ia adalah sumber rahmat, penerima dosa, dan memberi ampunan bagi kemungkaran. Surah Ali A'raf, ayat 77 pada Al-Quran kini melihat masalah yang berbeda yang dihadapi oleh Bani Israel. Bagian ini menceritakan situasi di mana Bani Israel melakukan dosa yang menjadi tuntutan Tuhan kepada mereka, dan bagaimana mereka menanggapi situasi tersebut.
Ayat 77 Surah Al-A'raf memaparkan kesombongan para pemimpin Bani Israel yang menghadapi panggilan Allah dan menentang seorang nabi yang terpilih oleh-Nya. Di dalam ayat ini, diungkapkan bagaimana mereka melawan nabi Saleh dan menolak untuk melakukan perintah Tuhannya. Mereka sembelih unta betina yang disebutkan di ayat sebelumnya dan beranggapan bahwa mereka pasti akan mendapat kemuliaan dan kemakmuran jika mereka mau mengikuti perintah.
Kemudian mereka menyebut namanya dengan nada yang penuh ejekan dan menuntut untuk membuktikan bahwa dia adalah seorang nabi dari Allah. Ini adalah salah satu dari banyak contoh ketika manusia membuat dugaan tentang nabi dan menentang perintah Allah. Para pemimpin tidak akur dengan keterangan Tuhan dan tetap menentang Saleh meskipun alasan yang diberikan Allah memiliki nilai tragis yang penting. Pelanggaran terhadap hukum Allah secara tegas menyebabkan ketidakbijaksanaan dan kebodohan para pemimpin dan penolakan nabi-nabi yang diutus-Nya.
Ayat ini juga menyoroti perilaku manusia yang lupa akan takdir Tuhan. Pelanggaran terhadap perintah Allah menyebabkan mereka kehilangan kesadaran bahwa dosa akan menyebabkan penderitaan. Mereka mengharapkan agar mereka tidak akan menghadapi suatu hukuman sebagai akibat dari perbuatan mereka. Meskipun mereka tahu bahwa perbuatan mereka salah, mereka masih berpikir bahwa mereka tetap dapat menikmati kemuliaan serta kemakmuran.
Ayat ini juga menegaskan bahwa manusia harus belajar dari kesalahan mereka untuk menghindari kesalahan di masa depan. Ayat ini menekankan bahwa semua keinginan manusia tidak boleh merusak hubungan manusia dengan Tuhan. Itu semua harus dibangun di atas dasar-dasar ketakwaan yang kikir. Ini adalah prinsip perintah Allah, kesediaan menghargai Tuhan, dan keinginan untuk mematuhi perintah-Nya.
Ayat ini menggambarkan perjuangan yang sering dialami oleh para nabi Allah. Pasukan pangeran mereka menentang dan menyebarkan bencana yang menghancurkan umat beriman. Mereka mengabaikan nasehat Allah dan menolak untuk mengikuti Sunnah-Nya. Ayat ini menunjukkan betapa pentingnya mendengarkan nasehat Allah agar kesalahan dapat dihindari dan hukuman bisa dihindari.
Ayat ini juga mengingatkan kita tentang konsekuensi dari menentang perintah Tuhan. Ketika manusia bertindak sewenang-wenang dan tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan, mereka akan menghadapi akibatnya dalam bentuk ketidakseimbangan, kemiskinan, dan keputusan yang salah yang dapat menyebabkan penderitaan bagi mereka yang ingin melawan.
Kesimpulannya, ayat 77 Surah Al-A'raf menyoroti konsep bahwa Allah tidak mencoba untuk mengendalikan kehidupan manusia tetapi untuk memimpin mereka kepada tugas yang benar agar mereka dapat mendapatkan rahmat dan berkat-Nya. Ini merupakan cara terbaik niag untuk mencapai kebahagiaan dan kemuliaan di dunia dan di akhirat.