Surah Al-A’raf ayat 104 merupakan ayat di Alquran yang turun di pertengahan Pembebasan Islam. Ayat ini merupakan bagian dari percakapan antara Nabi Musa a.s. dengan Firaun dalam Perjanjian Firaun. Dikisahkan dalam ayat ini bahwa Nabi Musa a.s. merupakan seorang utusan Tuhan peneampil alam semesta.
Firaun yang diterangkan dalam Alquran adalah seorang pemimpin Mesir pikiran keras pada za'aman Nabi Musa. Seperti diketahui, Nabi Musa a.s. diutus oleh Allah untuk menyampaikan pesan untuk memerdekakan bangsa Israel. Namun, untuk membuat Firaun menerima permintaan Nabi Musa a.s., Nabi Musa a.s. harus menunjukkan dukungan penuh dari Allah agar Firaun memperhatikan permintaan Nabi Musa a.s..
Dalam Surah Al-A’raf ayat 104, Nabi Musa a.s. berkata kepada Firaun, "Wahai Fir‘aun! Sungguh, aku adalah seorang utusan dari Tuhan seluruh alam". Dengan berdiri dengan teguh di hadapan nemesisnya, Nabi Musa a.s. berani menyatakan bahwa ia adalah utusan dari Allah. Kalimat ini berisi firman Tuhan dan adalah sebuah pernyataan yang jelas bahwa hakikat yang memberi hak Nabi Musa a.s.. Adanya utusan Allah membuat Siirta Musa a.s. tidak bisa diputarbalikkoran. Di bawah kuasa Allah, Nabi Musa a.s. adalah seorang yang dihormati dan pusat perhatian pada waktu itu.
Di samping itu, bahkan untuk tujuan dakwah, para Nabi dan Rasul sebelumnya juga dikirim melalui crus 'utusan' Allah 'untuk membawakan pesan dan menasihati umat manusia untuk menyerahkan diri kepada Allah. Namun, tidak semua Nasip diminta untuk menyampaikan pernyataan yang tepat seperti yang dilakukan oleh Nabi Musa a.s.. Ini sebagai tanda bahwa Allah memberikan kekuatan tersendiri kepada Nabi Musa a.s. dengan mengutusnya sebagai utusan Allah untuk menyampaikan pesan kepada Firaun dan mengubah musuh Allah menjadi pengikut Allah.
Selain itu, banyak pelajaran harus kita ambil dari bagaimana cara Nabi Musa a.s. menghadapi Firaun. Ini berarti bahwa kesabaran, tekad, dan keyakinan yang ditemukan dalam kalimat "Aku adalah utusan Allah" diperlukan untuk bertumbuh secara spiritual. Ini juga menekankan bahwa kita harus memiliki keyakinan yang kuat dan langkah-langkah yang benar dalam hidup kita. Hal ini diperlukan agar kita dapat melaksanakan perintah Allah dan menjadi saksi kebenaran dalam kehidupan kita. Ini menandakan bahwa kita memiliki kewajiban untuk mempertahankan diri pada kebenaran Allah. Ini juga menegaskan bahwa setiap jiwa harus berpegang teguh pada ajaran agama.
Dengan demikian, Surah Al-A’raf ayat 104 menyampaikan banyak pelajaran tentang keimanan dan taat kepada Allah, di mana Nabi Musa a.s. menyampaikan sebuah pernyataan yang sangat berani dan teguh untuk menyatakan bahwa ia adalah utusan dari Allah. Selain itu, bagi umat Islam, ayat ini juga menekankan pentingnya kesabaran, keyakinan, dan keberanian untuk menyebarkan dakwah Islam serta menjalankan perintah Allah.