Surah Al-A’raf Ayat 103 berbicara tentang Musa yang telah ditugaskan kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya dengan membawa beberapa bukti dari Allah. Namun, malangnya, bukti-bukti yang dibawa oleh Musa ditolak dan diingkari oleh mereka. Ayat ini digunakan sebagai peringatan bagi setiap orang yang jahat dan ingkar pada ajaran Allah.
Ayat ini menggambarkan betapa besarnya keanehan dan ketidakberdayaan Fir’aun ketika ia dihadapkan dengan bukti-bukti yang dihadiahkan Musa untuknya. Ia berkata, “Apa yang kamu bawa adalah trik yang musnah,” menolak segala yang dihadiahkan oleh Musa.
Ayat ini juga merujuk kepada bagaimana Fir’aun bersikeras bahwa ia adalah Raja yang tidak dapat ditolak. Dia merasa bahwa ia harus tetap mengendalikan kaum Israel dengan ego yang besar, yang menyebabkan ia ingkar pada ajaran Allah. Fir’aun juga meremehkan Nabi Musa dan ajaran kenabian.
Di sisi lain, Ayat ini juga menggambarkan bagaimana Allah memberikan bukti-bukti atas keesaan DiriNya, kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Bukti-bukti yang disebutkan di dalam ayat ini antara lain terletak dalam tujuh mukjizat yang telah diberikan Musa. Berdasarkan keterangan dalam ayat tersebut, bukti-bukti akan ajaran Allah telah disampaikan dengan jelas, namun digunakan secara salah oleh Fir’aun.
Kemudian Ayat ini juga memperingatkan setiap orang yang menolak ajaran Allah akan berakhir dengan buruk. Ayat ini menekankan bahwa siapa saja yang berbuat kerusakan tidak akan mendapatkan kebaikan di Akhirat. Pasalnya, tidak ada unsur yang lebih kuat daripada yang Dzat yang Maha Kuasa di dunia ini. Orang yang tidak mengikuti ajaran Allah ialah orang yang sia-sia.
Dalam AL Qur’an, ayat 103 dalam Surah Al-A'raf oleh Allah untuk mengingatkan kita bahwa kebaikan adalah dengan berpegang teguh pada ajaran agama dan akhirat yang baik adalah milik mereka yang mengikutinya. Kita semua harus meninggalkan sikap keras kepala dan mengerti bahwa ayat tersebut mengisyaratkan pada kita bahwa investasi Allah yang dimiliki Fir’aun dan ahli baitnya berakhir dengan kehancuran dan akibatnya mereka menjadi berkunang-kunang di dunia. Oleh karena itu, diharamkan bagi siapapun untuk bertindak sangat dosa dan tidak berlaku baik terhadap Allah.
Kesimpulannya, ayat 103 dalam surah Al-A'dzraf merupakan peringatan dari Allah bagi siapa pun yang berbuat kerusakan. Ayat tersebut memberikan contoh tentang Fir’aun dan ahli baitnya yang dengan sia-sia menolak peringatan Allah dalam bentuk bukti yang tidak bisa mereka tolak. Akibatnya, mereka diberi kutukan dengan kehancuran pada Akhirat. Oleh karena itu, setiap orang harus stay untuk melaksanakan perintah Allah, jangan meninggalkannya.