Surah Al-A’raf ayat 88 merupakan sebuah ayat yang menceritakan tentang sikap pemuka-pemuka Syuaib dan rakyatnya. Mereka memperingatkan Syuaib untuk kembali ke agama mereka atau akan dikeluarkan dari kampung halamannya. Akan tetapi, Syuaib tidak mau menuruti perintah pemuka-pemuka itu. Syuaib menolak kemungkinan pengusiranmereka dan bertanya, Apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak suka ?
Di dalam Surah al-A’raf ayat 88 dan sekitarnya memaparkan situasi yang dihadapi umat Nabi Syuaib ketika dihadapkan dengan permintaan sekelompok pemuka mereka untuk bertaubat dan kembali kepada agama asalnya. Kalangan pemimpin (kepemimpinan) yang dianggap sebagai 'ayatil medina' menginginkan agar mereka menjadi seperti mereka dan melepaskan diri dari iman mereka.
Nabi Syuaib, tidak bersedia untuk menurutinya. Terlebih lagi, Syuaib merasakan bahwa tindakan seperti itu tak ubahnya seperti kekejaman. Amanat Allah yang dipersamakan dengan ancaman melepaskan diri dari agamanya. Oleh karena itu, Syuaib mempertanyakan apakah keadaan ini sebenarnya benar-benar akan datang.
Ketika sikap mereka mengucapkan warning dan mengancam Syuaib, Nabi Syuaib tidak hanya tetap berdiri teguh. Ia juga mengajak mereka untuk mencari layanan yang adil dan mencari alasan yang rasional. Dia meminta kepada mereka untuk berfikir tentang apa yang telah mereka alami, dan siapa yang dapat diyakini mata hati mereka. Dengan cara ini, Syuaib mengajarkan pada mereka untuk memperhatikan besar rahmat Allah dan kesatuan ini.
Merespon sikap kaum Nabi Syuaib, Allah S.W.T. menceritakan dalam Surah Al-A'raf ayat 88. Ayat ini mengajarkan kita tentang tingkah laku yang harus dimiliki sebelum menghadapi musuh kerohanian. Beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari ayat ini antara lain adalah 1) Lakukan yang terbaik dan jangan menyerah di hadapan musuh. 2) Jangan biarkan persoalan batin dianggap remeh. 3) Selama saat menghadapi ketidakadilan, berani untuk mengajukan pertanyaan. 4) Jangan mudah percaya terhadap pribadi-pribadi yang menggunakan kosong lagi seenaknya. 5) Jangan mudah menjalankan agendas yang bisa mengancam sila-sila iman dan merusak perdamaian masyarakat.
Selain itu, manusia juga harus mencari cara yang bijaksana dan berpikir logis dalam menghadapi solusi yang dihadapi. Kita harus melakukan yang terbaik dan tidak pernah menyerah, meskipun berdigangdigang dengan lawan.
Kesimpulannya, Surah Al-A’raf ayat 88 ini seperti satu peringatan bagi kita bahwa bersikap tegas, berani dan to the point adalah penting dalam menghadapi musuh-musuh kerohanian. Kita harus sentiasa berbisik untuk berpegang pada ajaran agama kita, tentang toleransi, persatuan dan kerjasama. Kita juga perlu mengingatkan setiap lapisan masyarakat yang berbeda secara agama untuk menghargai keyakinan masing-masing, menjaga keharmonian dan memperlakukan antara satu sama lain dengan adil dan manusiawi.